Memungut Hikmah dari Sebuah Perjalanan #CatatanUyun [Bagian-7]

 


Minggu pagi ini kesekian kalinya saya memungut hikmah. Jika sebelumnya dengan komunitas lain, kali ini hikmah pagi saya dapatkan bersama teman - teman BPKK DPP Partai Keadilan Sejathera (PKS). Webinar sendiri dimulai sekira pukul 07.30 WIB, tapi ternyata terhalang jaringan internet yang bermasalah. Saya banget !

Berulangkali saya coba masuk ke aplikasi zoom meeting tetap saja gagal sampai harus mencoba lima kali. "Meskipun menyesal dan sayang tapi apa boleh buat," gumam saya. Karena gagal terus akhirnya saya melanjutkan aktivitas dengan memenuhi  permohonan tim untuk melihat Rumah Pemenangan Tim Gabungan dan Relawan di Citangkil, Kota Cilegon. 

Berangkatlah saya menuju lokasi dan cuaca sedikit mendung menemani aktivitas keluar rumah saya hari ini. Setelah 15 menit perjalanan sampailah saya di lokasi dan langsung melihat-lihat rumah yang rencananya kami jadikan markas pemenangan HelldySanuji.

Saya cek satu satu ruangan yang ada dan saya menilai cukup layak rumah ini digunakan untuk rumah pemenangan. Saya melihat ada  sarana untuk tempat berdiskusi, sharing dan berkoordinasi bersama tim dan relawan. 

Selesai ngecek, saya keluar rumah dan sudah terparkir gerobak sayur yang penjualnya ibu-ibu dengan umur yang tidak muda lagi denga ada 3 pembeli. Saya menyempatkan untuk membeli sayur asem dan tempe daun, dan ibu penjual sayur menanyakan  saya dari mana dan saya jawab saya tinggal di Ramanuju Tegal, Kota Cilegon.

"Kalau asli dari Sambimanis," kata saya kepadanya. Ia pun menanyakan keluarga saya. "Puterinya siapa," tanyanya. Kemudian saya jawab dengan menyebutkan nama Abah saya dan ibu saya. Ternyata penjual sayur dan salah satu pembeli mengenal dengan baik orangtua saya, 

"Alhamdulillah, senang rasanya pagi-pagi bisa bertemu dengan teman Ibu saya," kata saya kepada mereka. Pertemuan itu saya gunakan untuk ngobrol sebentar dengan mereka, salah satunya ada seorang bapak yang menanyakan: ”Kalau Uyun nyalon kemarin menang engga? Saya jawab saya Uyun Pak.

"Alhamdulillah saya terpilih mewakili Dapil Citangkil - Ciwandan,"kata saya kepada bapak itu. Dengan spontan bapak itu menjawab. "Ahamdulillah, yaa Allah saya ketemu sama orangnya langsung," kata bapak itu sembari  tersenyum senyum dan berkata lagi “ selamat ya Bu.. menawi amanah” ( selamat ya Bu.. semoga amanah ).

Saya jawab Aamiin... atur nuhun sedanten. Kule pamitan ( terimakasih semuanya, saya pamitan ). Sayapun mohon pamit dan beranjak menuju mobil untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. 

Ternyata hujan mulai turun membersamai aktivitas saya pagi ini, saya melanjutkan kegiatan dengan menuju lokasi pemenangan rumah sebagai alternatif yang kedua. 

Tidak lama saya sampai lokasi dan hujan mengguyur dengan deras, karena saya lupa membawa payung saya pun turun dari mobil dengan berlari agar baju saya tidak terlalu basah. Sampainya di rumah tujuan saya ngobrol dengan pemiliknya dan langsung mengecek untuk melihat ruangan yang ada di dalamnya. 

Setelah selesai berkeliling, saya lanjutkan ngobrol kembali. Obrolan semakin santai dan mengalir dengan diselingi tawa dari kami, karena pemilik rumah ternyata teman abah saya sejak dulu.

 Alhamdulillah.... bertemu lagi kawan Abah saya, senang rasanya ngobrol pagi ini bertemu dengan orang-orang yang pernah dekat dengan kedua orangtua saya. 

Setelah saya rasa cukup, saya pun pamitan kepada tuan rumah sekalipun hujan masih turun cukup deras. Saya melanjutkan aktivitas ke Mancak menemui seseorang yang sudah meminta waktu sebelumnya untuk bertemu.Perjalanan kali ini ditemani hujan yah membuat cuaca semakin dingin karena baju saya lumayan basah . 

Hujan hari itu merata di Kota Cilegon dan Serang, terlihat kabut lumayan banyak menyelimuti serasa sedang menempuh perjalanan di Puncak Bogor. 

Dan setelah perjalanan sekitar 30 menit saya sampai lokasi dan bertemu dengan Pak Idham, kami ngobrol sambil melihat lihat kebun beliau yang lumayan luas. Melihat pemandangan yang luas, hijau dan dingin karena hujan betul betul menjadikan pandangan ini menjadi segar. 

Kami ngobrol selama 30 menit dan sayapun pamitan setelah obrolan pembahasan selesai. Saya pamitan dan melanjutkan menuju ke Serang untuk menengok Fahmi putranya Abah Jalu yang baru saja disunat. Saya mengambil jalur keluar menuju Serang dan berhenti sejenak untuk Sholat Dzuhur di masjid terdekat yang kami lalui. 

Setelah menempuh perjalanan 30 menit ( karena ada buka tutup jalan yang sedang dilakukan pengecoran ) saya pun sampai serang dan memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. 

Selesai makan siang sayapun bergegas untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah Abah Jalu, saya buka Google map untuk melihat lokasi rumahnya, sekiira 11 menit waktu yang saya butuhkan untuk sampai ke rumah Abah Jalu . 

Saya pun melanjutkan perjalanan dan saya lihat sudah diujung jalan dan saya telepeon Abah Jalu untuk keluar rumah, tidak lama di depan mobil sudah berdiri sosok yang saya kenal. Saya pun turun dari mobil menyapa beliau dan masuk ke dalam rumah. Terlihat Fahmi yang sedang tiduran dikasur dengan kipas angin yang menyala terus, sepertinya untuk mengurangi perih yang terasa. 

Saya mendekat ke Fahmi dan saya ucapkan semoga cepat sembuh,  sehat lagi dan tambah Sholeh. Ini upah sakitnya ya, ditabung bukan untuk jajan ya. Saya pun memberikan amplop sebagai upah sunat buat Fahmi. 

Setelah itu saya duduk di teras yang sudah digelar karpet diatasnya, ngobrol dan mendengar cerita Bah Jalu tentang Fahmi yang baru disunat. Kemudian Bah Jalu manggil putrinya yang bernama Annisa mahasiswi di Universitas Pendidikan Indonesia Program Studi Bahasa Jepang.

Annisa bercerita kalau dia mau mengikuti Program Pemuda Delegasi Indonesia yang ke 4 di Jepang yang pendaftarannya paling akhir Senin 21 September 2020 atau besok. Saya sampaikan Annisa ikut saja mudah-mudahan berhasil dan lulus sebagai 4 besar dan dapat berkunjung ke Jepang secara gratis.

Annisa dengan tersenyum menjawab iya pingin banget ikut Bu dan Abah Jalu menyampaikan untuk dibantu biaya pendaftarannya sebesar Rp 200.000. Saya jawab spontan, silahkan daftar Annisa tapi kamu harus belajar yang sungguh-sungguh untuk bisa lulus dan masuk 4 besar agar bisa berkunjung ke Jepang sambil menyerahkan uang sebesar yang mereka butuhkan. 

Annisa senang mendengarnya dan menerima uang tersebut sambil mengucapkan terima kasih. Saya pun pamitan untuk segera pulang ke rumah karena jam 17.00 WIB sudah ada janji bersama tim saya . Dalam perjalanan menuju Cilegon masuk pesan melalui WhatsApp  dan saya buka yang isinya adalah salah satunya dari Abah Jalu menginfokan kalau Annisa sudah melaksanakan registrasi untuk mengikuti tes Program  Pemuda Delegasi Indonesia di Jepang dengan melampirkan bukti transfer. 

"Semoga sukses buat Annisa , jangan lupa belajar yang rajin,"jawab saya. Saya buka pesan yang lain , ada dari komunitas Gebrak minta ketemu juga malam ini, juga pesan dari tim pemenangan Kecamatan Citangkil meminta kesiapan rumah saya untuk rapat bersama dan semuanya saya jawab Ok, karena semua harus berjalan dengan segera dan tentu saja harus segera saya putuskan.

Setelah menempuh perjalanan 30 menit saya pun sampai rumah, seperti biasa mencuci tangan pakai sabun terlebih dahulu sebagai protokol kesehatan agar bisa menemui anak-anak dan menyapa mereka. 

Saya pun lanjut merapihkan dapur karena sepertinya anak-anak baru berkreasi di dapur. Baru saja saya selesai merapihkan dapur, suami saya menginfokan kalau ibu-ibu tim saya Di lingkungan sudah ada di teras, segera saya keluar rumah dan saya sapa mereka . 

Sudah hadir Bu Hj. Rubiyati, Bu Ismayati dan Bu Warsinah duduk di teras rumah saya. Seperti biasa, kami kalau kangen selalu menyempatkan ketemu, ngobrol-ngobrol dan diselingi dengan info-info terbaru tentang apa saja. 

Sedang asyik kami ngobrol masjid di depan rumah saya mulai memperdengarkan sholawatan pertanda waktu Maghrib hampir tiba. Mie ayam yang sudah dipesan tidak bisa kami nikmati bersama, tapi harus dibawa pulang karena adzan sudah berkumandang. Koordinasi singkat yang kami lakukan tapi terasa penuh kehangatan. Semua pamitan dan saya pun mengucapkan terima kasih.

Saya masuk ke dalam rumah, anak-anak pun diajak ke masjid oleh Pak Suami dan diminta menggunakan masker semuanya. Setelah maghrib dan Isya bersama keluarga di rumah, jam 20.00 tamu mulai berdatangan untuk rapat tim , sebagian hadir, sebagian lagi melalui zoom meeting. 

Beberapa menit kemudian komunitas Gebrak juga datang dan meminta waktu kepada saya untuk mendengarkan aspirasi yang mereka sampaikan. Kedatangan mereka saya terima dengan baik dan saya dengarkan aspirasinya untuk diteruskan kepada Bapak Wali Kota Cilegon. 

Setelah dianggap cukup, mereka berpamitan dan mengucapkan terima kasih sudah berkenan menerima mereka dengan baik, dan saya pun melanjutkan bergabung dalam rapat bersama tim sampai jam 23.00 WIB. Waktu terus berjalan, dan kita tidak bisa mundur ke belakang. Setiap waktu dan momen berusaha untuk mengisi dengan maksimal. Semua usaha harus diikuti dengan do’a agar Sang Maha Kuasa senantiasa melindungi dan menjaga kita.

#CatatanUyun, Kota Cilegon 20 September 2020

Posting Komentar

0 Komentar