Mengasah Rasa, Memetik Hikmah [Bagian -10]

 


Hari Selasa, 22 September 2020 saya mengawali kegiatan dengan mendampingi anak-anak saya yang sedang mengikuti PTS secara online. Tentu saja membutuhkan konsentrasi dan perhatian yang penuh agar kelima putra saya bisa mengikuti PTS dengan baik. 

Selesai mendampingi PTS online saya pun menyiapkan makan siang anak-anak. Kali ini makan siang pun dipesan secara online. Melalui pesan WhatsApp suami saya mengabarkan kalau mau makan siang di rumah juga sambil menyapa anak-anak, kebetulan.

Karena sudah masuk wakut Shalat Dzhuhur anak-anak saya minta untuk sholat terlebih dahulu baru lanjut makan siang bersama. Ditengah saya menyiapkan makan siang anak-anak, ada suara memanggil dari teras dan ternyata begitu saya lihat pedagang melon dan nanas yang menawarkan ke saya untuk membeli.

Sayapun membeli 2 melon yang manis dan nanas yang manis juga dan langsung minta dibersihkan. Tidak butuh waktu lama pedagang tersebut membersihkan dan dalam hitungan beberapa menit ia menyerahkan melon dan nanas yang sudah dikupas. 

Kepada penjual buah ini saya tawarkan makan siang sekalian. Dengan malu- malu sempat menolak dan akhirnya bersedia setelah saya persilahkan untuk makan. "Kalau engga makan nanti Kakang lapar," kata saya kepada penjual buah itu . 

Dengan tersipu, pedagang itu akhirnya mau makan siang di rumah saya dan duduk di teras menikmati makan siangnya dengan lahap. Saya sudah tanya namanya siapa, dan Kakang penjual itu menyebutkan namanya tapi sayanya yang lupa mengingat namanya. 

Hehehe..., sepertinya sekarang ini saya gampang lupa mengingat nama orang yang baru pertama kali bertemu.  Selesai makan beliaupun pamitan dan mengucapkan terima kasih dan tidak lupa menyampaikan do’a buat saya. 

"Aamiin yaaa Allah .. semoga do’a Kakang penjual buah diijabah," balas saya menjawab doa tukang buah itu. Dan saya pun membalas doanya. "Semoga Kakang diberikan kesehatan dan rizki yang lancar untuk menafkahi istri dan anaknya," doaku untuk dia. Kakang pedagang itu naik motor dan pamit kepada saya.

Bagi saya membalas do'a itu penting sebagai ucapan terima kasih dan pada hakikatnya ketika kita mendoakan orang lain sama saja dengan mendoakan diri sendiri.

Usai saling mendoakan, saya sejenak menengok ke atas langit dan terlihat gelap serta mendung menyelimuti Kota Cilegon. 

Setelah anak-anak makan siang bersama dengan suami juga , saya pun pamitan terlebih dahulu ke suami ingin menengok Ibu Nanik Riyanto yang baru saja kehilangan suaminya karena serangan jantung. 

Rumah saya yang sangat dekat dengan rumahnya. Selain ikut belasungkawa saya ingin menanyakan  kabar dan melihat kondisinya Bu Nanik. Bu Nanik pasti sangat berduka dengan. musibah yang dialami. Bagaimana tidak, separuh jiwanya telah pergi selama - lamanya pasti ada sesuatu yang dirasa kurang. Namun itulah takdir sang kuasa, pemilik alam semesta. Kita tidak bisa menghindar jika Dia berkehendak, selain pasrah dan sabar.

Sesampai di rumah Bu Nanik tidak banyak yang saya sampaikan selain memberikan semangat dan do’a untuk Bu Nanik, setelah itu saya pun pamitan dan lanjut dengan agenda mengunjungi Ustadz Ardawi yang kecelakaan. 

Menuju kediaman Ustadz tidak butuh lama dalam beberapa menit saya pun sudah sampai di rumahnya. Saya lihat bagian yang terluka, terlihat lecet-lecet di tangan, kaki dan mulut Ustadz Ardawi.

Demi memulihkan kesehatannya dan supaya istirahat saya  tidak bisa lama-lama di kediamannya. Saya minta beliau untuk istirahat agar mengurangi rasa sakit ketika dibawa berjalan ataupun duduk. Tak lama saya pun pamitan dan mendo’akan beliau agar segera pulih dan sehat kembali.

Saya pun melanjutkan perjalanan menuju ke Toyomerto yang masuk wilayah Kabupaten Serang untuk mengunjungi kawan saya. Saya biasa memanggilnyya teteh, penjual bunga hias yang sudah ditinggalkan oleh suaminya karena sakit komplikasi yang diderita. 

Almurhum suaminya masih muda, usianya mungkin masih dibawah 40 tahun. Teteh ini punya 3 putri dan saya terbayang beratnya beban yang harus dijalani dengan ujian ini. 

Setelah menempuh perjalanan beberapa menit saya sampai di kiosnya dan saya tanyakan kabarnya, si teteh langsung tersenyum dan menjawab Alhamdulillah sehat, sekarang harus mulai memikirkan anak-anak , sekalipun sedih tapi kehidupan harus terus berlanjut Bu dan saya harus mengurus dan menghidupi anak-anak saya. 

"Masyaa Allah... sosok  yang kuat dan tegar," gumam saya dalam batin. Ssaya pun menyampaikan kekaguman yang luar biasa. "Saya salut teh, sehat terus ya, semoga anak anak menjadi anak-anak yang sholehah," kata saya kepada si Teteh. 

Usai bersua, saya pun pamitan sambil memilih beberapa bunga untuk saya beli dan bawa pulang ke rumah. Saya pun melanjutkan perjalanan pulang ke rumah dan sampai rumah jam 17.15 WIB .

Baru saja sampai di rumah, masuk pesan melalui WhatsApp dati Bu Hj Rubiyati yang menyampaikan bahwa ada anak-anak yatim yang sudah berkumpul di rumahnya dan akan ada santunan. 

Saya pun segera menjawab pesan tersebut dan saya segera berangkat menuju rumah Bu Hj Rubiyati. Sesampainya di lokasi, ternyata sudah berkumpul sebanyak 21 anak-anak yatim. 

Terus terang saya sedih sekaligus terharu, bagaimanapun juga, mereka juga berhak atas kasih sayang dari orangtua, jikalau orang tuanya sudah tidak ada maka kewajiban kita untuk memberikan perhatian dan kasih sayang sebagai salah satu bentuk kepedulian kita dengan anak yatim, sayapun menyapa sebentar dan menanyakan kabar anak-anak dan mendo’akan mereka. 

Selesai saya menyapa dan memotivasi anak anak yatim  saya pun pamitan ke Bu Hj Rubiyati yang masih berlanjut dengan agenda santunan untuk anak yatim. 

Sambil berjalan ke rumah ( karena kami bertetangga dan rumah Bu Hj Rubiyati dengan saya sangat dekat ) saya sangat bersyukur dengan segala nikmat dan karunia yang Allah berikan. Ternyata sudah memasuki waktu Maghrib dan saya pun segera masuk ke rumah untuk menunaikan sholat Maghrib.

Saya di rumah malam ini sampai Isya karena setelah itu saya harus menuju ke Lingkungan KubangLesung Gegunung untuk menyerahkan satu set alat kendang lengkap untuk Peguron  Ki Muksam didampingi oleh Bapak Sanuji Pentamarta, calon Walikota Cilegon.

Saya pun minta diantar oleh putra pertama saya. Acara dimulai pukul 20.30 WIB dan selesai pada pukul 22.30 WIB. Setelah secara simbolis diserahkan dilanjutkan dengan permainan kendang oleh tim dan Kami secara bergantian diberikan waktu untuk memukul gong selama musik dimainkan. 

Setelah acara pertunjukan silat yang dipentaskan oleh 2 putri yang merupakan siswi SMP, berikutnya Pak Sanuji juga diberikan kesempatan untuk menunjukkan kepiawaiannya bermain pencak silat. Rupanya perlu latihan khusus secara intensif untuk Pak Sanuji agar menguasai jurus-jurus yang ada dan menjadi bagian dari komunitas peguron.

Waktu pun sudah pukul 22.30 WIB dan kami pun pamit kepada tuan rumah, pak RW, pak RT dan seluruh hadirin yang datang. 

Saat masuk ke dalam mobil tiba - tiba saya di stop dan disampaikan ada warga yang mau ketemu untuk menyampaikan aspirasi bersama warga yang lainnya. Saya pun menerima mereka sampai jam 23.00 WIB, setelah saya dengarkan dan saya berikan arahan terkait dengan sistematika penyelesaian aspirasi tersebut sayapun mohon pamit karena sudah jam 23.10 WIB.

Saya menuju mobil dan melaju ke arah rumah. Sampai di rumah pukul 23.30 dan saya pun segera bersih-bersih lanjut istirahat. Sebuah perjalanan yang kaya akan hikmah. Mungkin cerita dan kisah yang orang lain alami pada hakikatnya isyarat bahwa sejatinya saya memang harus banyak bersyukur.

Dan salah satu wujud syukur itu adalah hadir ditengah - tengah mereka, paling tidak mereka tidak merasa sendiri dan bisa menjadi obat sementara. Hidup memang penuh warna warni dan terkadang pelajaran itu diberikan melalui cerita orang lain. Alhamdulillah atas nikmat-Mu ya Allah..

#CatatanUyun, Kota Cilegon 22 September 2020

Posting Komentar

0 Komentar