Belajar Optimisme dari Pedagang Keliling #catatanUyun [Bagian 21]

 


Menjadi keseharian saya ketika di rumah para pedagang keliling mampir dan menawarkan dagangannya. Ada yang jual buah-buah2an yang hampir semuanya berasal dari Kecamatan Purwakarta. Ada yang jualan makanan dari warga sekitar saya, ada yang jualan kerupuk mamangnya asli Garut dan kalau sampe depan rumah pasti memanggil.... ummi... kerupuk ummi... 

Dan biasanya saya langsung keluar dan menjawab. Beli mang.., 2 bungkus ya, dan segera saja mamang menyiapkan kerupuk saya. Begitu pula penjual buah-buahan selalu memanggil , Ibu Uyun.... 

Bu Dewan mangga buah  Bu.... dan saya pun tersenyum menemui mamang buah sambil memesan buahnya dan segera dipilihkan dan di kilo. Begitu pula pedagang yang lain... ada seorang pedagang ibu-ibu berusia 70 tahun berjualan pempek setiap hari, saya salut dengan ibu ini sekalipun sudah berusia senja tapi beliau masih mandiri, tidak mau bergantung pada anak dan cucu semata. 

Selalu saya selipkan do’a untuk beliau setelah saya bayar , sehat selalu ya Bu, semoga rezekinya lancar dan jualannya segera habis, laris manis. Beliaupun biasanya langsung tersenyum dan mengucapkan terima kasih, Aamiin.

Pedagang buah yang mampir ke rumah saya rata-rata masih muda dan semangat berjualan. Mereka pantang menyerah terus berkeliling berharap buah-buahan yang mereka bawa hari ini bisa terjual habis. Biasanya saya persilahkan masuk ke teras dan saya tawarkan minum, katuran mang, arep ngopi tah? 

Gawe dewek ya.., mereka sangat senang dan menjawab... Alhamdulillah Bu..., arep minum Bae ya, haus. Dan biasanya saya tawarkan untuk membawa beberapa air gelas agar ketika mereka berkeliling dan haus mereka bisa segera minum tanpa harus membeli terlebih dahulu.

Seringkali saya terharu menyaksikan kerasnya hidup masyarakat, ditengah pandemi yang masih menerjang mereka tetap yakin dan optimis bahwa rezeki mereka sudah dituliskan oleh sang Maha Kuasa, tinggal mereka usahakan dan menjemput  rezekinya. 

Sapaan kita yang ramah kepada mereka tentu saja menjadi rasa semangat untuk terus menjemput rezeki tersebut agar bisa dinikmati oleh anggota keluarganya di rumah. Seringkali mereka saya ajak ngobrol sebentar sekedar untuk mengetahui bagaimana kuatnya semangat mereka untuk mencari rezeki. 

Mereka saja semangat kita pun harus lebih semangat lagi. Merekapun optimis bahwa rezekinya sudah diatur oleh Allah SWT kita pun harus lebih optimis lagi. Bertemu pedagang-pedagang tersebut menjadikan saya bergumam dalam hati... 

Yaa Allah... amanah ini sangat berat, berilah kemampuan kepada hamba untuk bisa berkontribusi bagi masyarakat, kuatkan semangat hamba dan jangan pernah redup untuk selalu melayani masyarakat.

Posting Komentar

0 Komentar